Selamat Datang

Selamat Datang di Blog Ini Tempat Anda Berbagi Informasi.
Anda bisa Mengambil Data yang ada selagi Mencamtumkan Tempat Pengambilan.

Rabu, 10 November 2010

Artikel Tim Seleksi KPU

Hati-hati Tim Seleksi KPU
Adlan Sanur
Greget pemilihan Tim Seleksi (Timsel) Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) untuk Kota/Kabupaten sudah hampir rampung tinggal menunggu SK saja lagi. Hampir semua kota/kabupaten yang ada di propinsi Sumatera Barat telah melewati masa demam pengiriman bahan-bahan untuk menjadi Tim seleksi KPU kecuali kota Padang Panjang, Padang, Pariaman dan Sawahlunto yang Pilkadanya sudah dekat jadi KPU yang lama diperpanjang masa kerjanya. Namun ada wacana untuk tetap membentuk Tim Seleksi pada empat kota yang akan mengadakan Pilkada tersebut.
Tim seleksi yang dibentuk oleh KPU Provinsi untuk menseleksi calon anggota KPU Kabupaten/Kota pada setiap kabupaten/kota berjumlah lima orang yang berasal dari unsur akademisi, professional dan masyarakat yang memiliki integritas dan tidak menjadi anggota partai politik dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Sesuai dengan amanat Undang-undang no.22 tahun 2007 bahwa keanggotaan Tim Seleksi terdiri dari satu orang anggota yang diajukan oleh bupati/walikota, dua orang anggota yang diajukan oleh DPRD kabupaten/kota, dan dua orang anggota yang diajukan oleh KPU Propinsi.
Sesudah terbentuknya Tim Seleksi akan dilanjutkan pada proses untuk pemilihan calon Anggota KPU, dimana Tim Seleksi mengajukan 10 (sepuluh) nama calon anggota KPU Kabupate/Kota hasil seleksi kepada KPU Propinsi. Tentu juga akan terjadi demam untuk menjadi anggota KPU di Kabupaten/Kota. Demam ini paling tidak sibuk dengan kegiatan-kegiatan untuk melengkapi persyaratan menjadi anggota KPU.
Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah untuk melakukan pendekatan-pendekatan kepada pihak Tim Seleksi untuk bisa lolos menuju kursi anggota KPU. Memang tidak bisa ditepis bahwa Tim Seleksi ini tidak bisa lepas dari muatan-muatan politis karena memang mereka akan memilih KPU yang jadi wasit dalam proses pemilihan orang-orang politik baca partai politik. Memang fungsi dan tugas Tim Seleksi ini telah diatur oleh Undang-undang dimana, Tim Seleksi melaksanakan tugasnya secara terbuka dengan melibatkan partisipasi masyarakat serta tim dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu atau berkoordinasi dengan lembaga yang memiliki kompetensi pada bidang yang diperlukan.
Setidaknya harapan memang tertumpang banyak pada Tim Seleksi untuk selalu independen dan objektif. Sebab perbaikan bangsa dan demokratisasi dimulai dari hal ini. Para anggota Tim Seleksi yang ditunjuk mestilah mencitrakan diri sebagai manusia pilihan(insan kamil) dalam rangka melakukan perubahan dan mengawal demokrasi di negara ini. Sebagai contoh masuknya unsur kalangan akademisi setidaknya akan menjaga otonomi dari Tim Seleksi, sebab paradigma yang tertanam selama ini di tengah-tengah masyarakat memang kalangan akademisi masih dianggap independen (yang punya moral) dan bisa otonomi untuk tidak terjebak pada suasana politik dan lobbi yang ada. Tapi permasalahannya kemudian apakah masuknya kalangan akademisi ini tidak menjadikan mereka untuk terjebak pada politik praktis? Setidaknya orang mengatakan bahwa dunia kampus adalah dunia idealis dan dunia untuk mengatakan yang haq (benar).
Memang disadari atau tidak jebakan politik selalu saja bermain pada tataran apapun untuk mendapatkan sesuatu. Siapapun tentu akan selalu menyiapkan amunisi politik untuk meraih harapan. Logistik politik dan kapasitas individu memang kadang-kadang sejalan untuk meraih peluang ini. Loby dan money politik kadang-kadang sudah menjadi barang halal untuk mendapatkan sesuatu baca jabatan.
Semua bisa saja bermain dan jadi pemain tetapi sekali lagi bahwa anggota Tim Seleksi merupakan orang-orang terbaik dari yang baik di kabupaten/kota. Semoga iming-iming dan janji-janji muluk tidak membuat terlena para Tim Seleksi dan tetap mendahulukan aturan main sehingga tidak mencederai proses demorasi yang telah dibangun. Logika sehat tetap didahulukan untuk menentukan siapa yang patut menjadi anggota KPU Kabupaten/kota. Selamat duduk jadi Tim Seleksi dan ekstra hati-hati, moga-moga dapat memilih anggota KPU yang lebih baik untuk pemilihan 2009 ini.
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat

Artikel Nyiak Djambek

Inyiak Djambek
Tokoh Lokal yang Menasional
Oleh: Adlan Sanur Th*

Banyak sebenarnya mutiara yang terpendam di dasar atau di daerah/lokal yang belum pernah disentuh atau diangkat menjadi tokoh idola oleh generasi muda Sumatera Barat termasuk kota Bukittinggi. Kalau kita bernostalgia ke masa lampau dimana Ranah Minang yang sarat kwalitas dan kwantitas ulama yang sudah menasional tentu tidak diragukan lagi. Di samping banyaknya ulama kharismatik juga ditambah dengan munculnya madrasah-madrasah yang ada di Sumatera Barat. Salah satu di antara tokoh yang banyak itu adalah Syaikh Muhammad Djamil Djambek atau biasa disebut dengan Inyiak Djambek.
Ketokohan, cerita, tulisan baik artikel maupun opini dan kepopuleran Inyiak Djambek bisa dilacak baik melalui buku juga situs-situs internet bisa di ketahui. Selain yayasan juga STAIN ”Sjech. M.Djamil Djambek” Bukittinggi serta surau Sjech.M.Djamil Djambek menjadi icon yang memakai nama dari Inyiak Djambek. Memang kita sangat miris pada akhir-akhir ini dimana generasi muda tidak banyak mengetahui tokoh-tokoh apalagi ulama yang ada di daerahnya tanpa terkecuali Bukittinggi khususnya dan Sumatera Barat umumnya.
Acara perhelatan akbar dalam rangka memperingati 100 tahun Surau Sjech. M.Djamil Djambek di Bukittinggi yang dikemas dengan Seminar nasional menampilkan Prof. Dr. H. Syafi’i Ma’arif, M.A dan bedah buku Dr.H.M Syafi’i Antonio, M.Ec serta Tabligh Akbar dengan pembicara Ustaz H.Yusuf Mansur serta H. Mas’oed Abidin dan dipandu oleh artis Nasional Andrian Maulana dan Zaskia A.Mecca selanjutnya acara ini dibuka oleh Menteri Sosial Bapak Drs.Bachtiar Chamsah membuktikan bahwa inyiak Djambek bukanlah hanya tokoh lokal tapi juga sudah menasional.
Inyiak Djambek sebagai seorang ulama inovator dan berfikiran moderat banyak sekali melakukan terobosan-terobosan cemerlang. Melakukan kritik terhadap tarekat, mengganti bacaan barzanji pada acara Maulid dengan acara pengajian biasa (atau melacak history Nabi Muhammad), mempunyai kemampuan dalam ilmu falak, menggagas acara khatam al-Qur’an serta sejumlah terobosan lainnya membuktikan bahwa inyiak Djambek adalah tokoh yang patut untuk selalu dikenang dan dijadikan kazanah intelektual.
Agaknya tidaklah salah kalau Pemerintah Daerah baik Propinsi Sumatera Barat maupun kota Bukittinggi memberikan perhatian dan apresiasi akan ketokohan serta ide-ide cemerlang yang dilontarkan oleh inyiak Djambek. Sebagai ulama pembaharu sewajarnyalah pemikiran beliau ini tetap dilakukan kajian atau penelitian supaya tetap membumi dan bisa dijadikan uswah. Istilah ”mambangkiak batang tarandam” dalam bidang adat biasanya dipakai tidaklah salah untuk kita lontarkan kembali terhadap ide-ide inyiak Djambek yang sudah mulai hilang dan dilupakan untuk kembali diangkat walaupun tidak terandam betul.*
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat

Artikel Dakwah

Dakwah yang Sejuk
Oleh: Adlan Sanur Th, M.Ag

Berdakwah sering dipahami oleh masyarakat sama dengan bertabligh atau berceramah atau mengaji walapun tidak bisa dipungkiri bahwa tabligh merupakan salah satu bagian dari metode dakwah. Setidaknya bagi kaum muslimin setiap sekali seminggu atau hari jumat umat Islam mendengarkan pengajian atau dakwah yang disebut dengan khutbah jumat.
Memang untuk menjadi seorang da’i bukanlah pilihan yang mudah. Selain punya keikhlasan juga mesti punya modal kemauan yang kuat. Oleh sebab itu keberhasilan seorang mubaligh dalam melaksanakan kegiatan dakwahnya akan sangat bergantung kepada kemampuannya dalam menguasai audiens dan penguasaannya terhadap materi. Kedua faktor ini disinyalir sebagai penentu keberhasilan dakwah.
Namun demikian, kegiatan profesi sebagai seorang mubaligh sering dipandang banyak orang sebagai ilmu dan seni. Ilmu dengan makna bahwa keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatihkan, namun disisi lain, kemampuan berdakwah merupakan talenta yang sudah dibawa sejak lahir, tapi dapat dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan.
Sebagai masyarakat awam yang bertindak sebagai pendengar tentu kita membutuhkan dakwah yang sejuk ini yaitu dakwah yang bisa diterima oleh masyarakat dan sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Dakwah yang memakai bahasa yang santun sehingga zuq nya akan terasa bagi orang yang mendengarkan dan menimbulkan keinginan atau motivasi bagi yang mendengarkan untuk terus mencari dan menggali ilmu agama. Bukan dakwah yang mengedepankan emosi dan semangat berapi-api tanpa sarat akan muatan makna yang bisa diambil
Sebagai salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari agama memang dakwah merupakan sarana yang tepat untuk memberikan ketenangan dan kesejukan bagi umat sekaligus tempat untuk mencari contoh terhadap para penyampai. Sudah saatnya para ustaz, muballigh, buya dan para ahli agama lainnya untuk merenung dan mengkoreksi apakah dakwah kita sudah mengena pada masyarakat. Jangan-jangan orang mendengarkan pengajian adalah untuk mencari hiburan dan seremonial agama belaka. Kalau begitu wajarlah semakin banyak pengajian justru kejahatan, korupsi, maksiat dan perbuatan dosa semakin meraja lela. Wallahu a’lam.***
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat

Artikel Da'i

Da’i dan Bukittinggi
Adlan Sanur

Kesadaran dan panggilan untuk berdakwah sudah terjadi dan dimulai sejak zaman dahulu. Dakwah yang pertama itu dimulai dari sejak zaman Rasulullah SAW sampai dengan masa pertengahan. Sebab Muhammad sebagai utusan Allah juga berfungsi sebagai seorang penda’i. Mengajak manusia dari alam kegelapan kepada alam yang terang benerang. Memang untuk melihat kepemimpinan umat Islam yang memajukan peradaban umat manusia, maka dakwah Islam tidak bisa dilupakan sejarah.
Secara historis sosiologis, baru pada abad sekarang ini umat Islam sadar bahwa Islam benar-benar tertantang memasuki panggung dakwah berskala global, yang antara lain disebabkan oleh revolusi teknologi transportasi dan komunikasi. Ketika sistem informasi dibantu satelit, seluruh bumi menjadi kecil. Dalam waktu yang bersamaan kita dapat memperoleh informasi dan gambar tentang peristiwa yang terjadi di belahan bumi. Dunia memang semakin modern dan maju. Peralatan yang dipakai manusia semakin canggih. Inilah yang oleh orang banyak menyebut era teknologi.
Manusia semakin mudah menggapai keinginan-keinginan dengan bantuan teknologi, khususnya teknologi komunikasi seperti televisi, radio, internet, telepon, faksimili, SMS dan media lainnya. Selanjutnya pada zaman ini bukan hal yang sulit untuk memindahkan atau bertukar budaya. Waktu dan jarak bukan lagi halangan. Berkomunikasi dengan manusia di belahan bumi lain bisa dilakukan secara langsung. Apa yang menjadi trend belahan bumi utara bisa saja sekejap langsung diikuti orang-orang di belahan bumi selatan. Bumi seolah menjadi kecil. Hari ini dia berada di negara A dan besoknya sudah berada di negara lain.
Menurut seorang Futurolog terkemuka asal Amerika Serikat, John Naisbit, era global serba teknologis seperti sekarang ini sering disebutnya dengan ” global lifestyle” telah merambah kemana-mana termasuk sampai ke kota Bukittinggi. Tidak bisa ditepis peradaban di belahan bumi manapun akan terimbas oleh percepatan perubahan budaya global yang membawa pada apa yang disebut The Boundlessof The World (Dunia tanpa batas). Akselerasi tampaknya merambah begitu cepat di hampir semua aspek kehidupan, tak terkecuali di negara-negara Muslim sekalipun. Budaya global yang mengalami perkembangan amat dakhsyat adalah: food, fashion dan fun ( makanan, pakaian dan hiburan).
Maka posisi berdakwah yang dilakukan oleh para “Da’i” punya peranan yang sangat strategis dan penting. Apalagi kalau berbicara tentang kota Bukittinggi. Kota kecil namun punya nuansa ke khasan keagamaan sekaligus kota yang banyak dikunjungi tamu baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Di sisi inilah para pendakwah lokal Bukittinggi berfungsi membentengi umat dari kehancuran dan pertautan budaya lokal dengan budaya yang masuk ke kota Bukittinggi.
Sudah tentu para ustaz, muballigh, buya dan panggilan keagamaan lainnya akan mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam berdakwah bila ditopang oleh seluruh stakeholders yang ada di kota Bukittinggi. Tetapi mengapa dalam persoalan Askes untuk da’i saja menjadi buah pembicaraan pada waktu lalu. Padahal persoalan askes hanyalah persoalan kecil yang tidak penting untuk diributkan dan sangatlah memalukan apalagi memasuki kawasan keagamaan yaitu askes untuk para da’i.
Penulis yakin bahwa keinginan atau niat baik pemerintah adalah untuk membantu para da’i merupakan suatu ketulusan dalam mengangkat nilai-nilai agama dengan memuliakan para d’i kota Bukittinggi. Pada sisi lain penulis lebih yakin bahwa para da’i bukanlah orang yang mau meletakkan tangannya di bawah hanya demi askes. Apalah arti askes dibandingkan dengan perjuangan dakwah yang telah mereka berikan dengan peningkatan pengetahuan untuk umat.
Persoalan askes sudah berlalu, namun ke depan bagaimana antara pemerintah dan da’i untuk sejalan. Seayun selangkah dalam membentengi umat dari persoalan yang semakin menggurita. Semoga. ***
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat

Artikel Bukittinggi

Oh Bukittinggi ku
Adlan Sanur

Akhir-akhir ini Kota Bukittinggi menjadi bahan berita yang hangat di media massa. Berita tersebut bukanlah berkaitan dengan acara akbar yang digelar di Bukittinggi. Sebab selama ini Bukittinggi selalu di jadikan event kegiatan baik tingkat Sumatera Barat, Nasional maupun Internasional. Selain kotanya yang sejuk juga Bukittinggi dilengkapi dengan penginapan yang memadai dan objek wisata yang tergolong dekat dijangkau dari segi transportasi. Banyak sekali objek wisata yang bisa di kunjungi di kota Bukittinggi dengan biaya yang murah meriah. Hotel yang dari segi jumlahnya memang banyak terdapat di kota Bukittinggi dari yang standar sampai pada bintang lima.
Berita tersebut adalah tersebarnya photo Siswa SMU 1 Bukittinggi yang dianggap porno, Penutupan Jam Gadang pada hari Penyambutan Tahun Baru 2009 dan peringatan malam Valentine Day yang dilarang diadakan di Kota Bukittinggi oleh Pemerintah Daerah. Hampir semua koran lokal beberapa minggu terakhir ini membincangkan masalah tersebut bahkan berbagai komentar bermunculan di sana sini.
Berita tentang photo siswa ini cepat sekali tersebar. Di situs-situs, media massa dan media lainnya menjadikan berita ini menjadi topic untuk ditangggapi. Photo yang berasal dari iseng saja kemudian jadi tersebar. Orang dimana-mana membicarakan hal tersebut. Pada acara kesadaran Nasional tanggal 17 Februari 2007 Kapolresta juga mengingatkan akan bahaya modernis. Memang dunia semakin modern. Gawatnya, pertukaran trend itu diserap mentah-mentah, tanpa saringan oleh pihak penerima termasuk generasi muda yang ada di kota Bukittinggi dan ini menjadi perhatian bersama.
Adanya poto ini tentu bertolak belakang dengan program yang selalu digembar-gemborkan oleh Pemerintah Kota Bukittinggi. Beberapa tahun terakhir Kota Bukittinggi tengah gencar-gencarnya melakukan “Pendidikan Berbasis Aqidah”. Pendidikan Aqidah yang tidak hanya slogan tetapi diaplikasikan dari semenjak dari anak usia dini sampai SLTA. Ini terlihat dari diadakannya kurikulum pendidikan berbasis aqidah dan penerbitan buku aqidah serta sekaligus penataran bagi guru-guru yang akan menanamkan aqidah kepada anak-anak. Tapi mengapa pendidikan berbasis aqidah ini seolah-olah tidak ”mankuih” atau bisa melakukan preventif sehingga anak-anak muda aqidahnya semakin kuat. Bahkan sudah disikapi dengan pelarangan siswa untuk memakai HP yang pakai kamera.
Berita yang kedua adalah malam Valentine Day yang sepi diganti dengan acara silaturrahhim atau kunjungan ke Masjid-masjid yang ada di Kota Bukittinggi. Adanya larangan bagi anak muda untuk merayakan malam Valentine Day karena dianggap bukan budaya Minangkabau (baca Islam). Jadilah kota Bukittinggi malam itu seperti kota yang sunyi yang digambarkan seperti kota Madinah. Dan malam itu terjadi penangkapan anak muda yang berlainan jenis pada malam Valentine Day tersebut.
Berita yang tidak kalah hangatnya adalah penutupan Jam Gadang pada malam pergantian tahun atau tahun baru dengan Bendera yang dianggap bendera orang Minangkabau. Walaupun masih ada sekitar 10 bulan lagi tapi sudah disosialisasikan tentang penutupan ini. Akhirnya bermunculan tanggapan dari berbagai pihak termasuk pelaku wisata. Sebab biasanya Bukittinggi sesak penuh termasuk di sekitar Jam Gadang pada malam pergantian tahun baru tersebut. Hotel akan penuh, perekonomian akan jalan dan sektor lainnya akan bisa menikmati. Tetapi lagi-lagi pertanyaannya apakah dengan menutup Jam Gadang masalahnya sudah selesai.
Tentu tidak? Sekali lagi sebagaimana dihantarkan di awal bahwa pengaruh global dan modernisme tidak bisa ditepis dan akan tetap merambah masyarakat kita termasuk generasi muda yang mayoritas beragama Islam. Oleh sebab itu silahkan Pendidikan Berbasis Aqidah tetap dilanjutkan dan dipertahankan, perhatian serius terhadap generasi muda ditingkatkan dan kemasan apik terhadap pengganti malam Valentine Day dan Tahun Baru mari duduk bersama memikirkannya. Kritikan konstruktif yang bermunculan menunjukkan tanda kecintaan orang terhadap kota Bukittinggi kota yang pernah jadi Ibukota PDRI.
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat

Artikel Kota Wisata

Bukittinggi Kota Wisata atau Pendidikan
Oleh: Adlan Sanur Th


Kota Bukittinggi sudah sangat dikenal di mana-mana dan diperkenalkan oleh pemerintah Daerah sebagai kota tempat kunjungan wisata (baca kota wisata). Tidaklah mengherankan berbagai potensi sumberdaya, baik alam maupun manusia diperbaiki dan dikerahkan untuk mencapai predikat ini.
Kampanye sekaligus promosi yang besar-besaran ini, memang sedikit demi sedikit sudah mulai menuai hasil. Hingga saat ini sudah betul-betul tertanam dalam setiap warga Bukittinggi dijuluki sebagai kota wisata ini. Setiap ada liburan berjubel masyarakat dating berwisata ke Bukittinggi.
Selain kota wiasata ternyata Bukittinggi juga dikenal sebagai kota pendidikan. Kalau dilacaka lebih jauh ternyata akar sejarah lembaga pendidikan tinggi di Sumatera Barat bermula dari Bukitinggi. Universitas Negeri Padang (UNP/ dahulu IKIP): B1 Bahasa Inggeris, B1 Sejarah, Fakultas Keguruan Teknik (FKT); Universitas Andalas (Unand): Fakultas Kedokteran; Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol: Fakultas Syari’ah; Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB): Fakultas Hukum (dahulu Sekolah Tinggi Hukum Muhammadiyah, STHM) dan Fakultas Teknik, kesemuanya dahulu berada di Bukittinggi.
Karena beberapa alasan kesemuanya ditarik dan dipusatkan di Padang, kecuali baberapa fakultas yang masih tetap bertahan yang dijadikan sebagai cabang atau lokal jauh, seperti Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol (semenjak 21 Maret 1997 menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, STAIN), Fakultas Hukum dan Fakultas Teknik Muhammadiyah. Hingga sekarang hanya beberapa fakultas dan jurusan yang tinggal di Bukittinggi.
Di samping itu banyak tokoh-tokoh Nasional yang pernah mencicipi pendidikan di Bukittinggi, walaupun untuk tingkat pendidikan menengah, karena sekolah-sekolah menengah yang ada di sini sudah tua dan tergolong lembaga-lembaga yang berkualitas semenjak zaman dahulu.
Pertanyaan penulis apakah kota Bukittinggi ini sebagai kota wisata atau pendidikan atau kedua-duanya. Agaknya pertanyaan ini perlu direnungkan dan jawabannya dikaji ulang. Apa yang menjadi landasan ketika mempopulerkan julukan tersebut. Apakah para perancang merujuk pada landasan filosofis dan historis. Disamping itu apakah potensi daerah sudah cukup mendukung untuk memperkuat alasan ini ? Ataukah salah pandang dalam menafsirkan potensi daerah yang ada sehingga yang lahir adalah ide kota wisata. Mungkinkah julukan kota wisata akan membawa kemajuan terhadap masa depan kota Bukittinggi.
Namun menurut penulis secara historis bahwa kota Bukittinggi sudah didisain sebagai kota Pendidikan dengan hadirnya berbagai lembaga pendidikan, malah sampai ke Perguruan Tinggi. Secara filosofis istilah kota wisata tidak berorientasi pada pengembangan SDM, akan tetapi berorientasi pada pengembangan SDA, walaupun ini juga penting.
Kalau kota Bukittinggi ingin kedua-duanya wisata dan pendidikan tentunya mesti dicarikan jalan untuk wisata yang Islami dan pendidikan yang Islami. Kalau pendidikan sudah berbasis aqidah tentunya tidak salah kemudian wisata juga yang berbasiskan nilai-nilai Islam. Semoga wacana ini menjadi renungan kita semua.***
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat

Artikel Bank Syari'ah

Bank Syari’ah dan Bukittinggi
Adlan Sanur Th
Kebutuhan masyarakat muslim terhadap praktek bank syariah mengalami peningkatan yang sangat signifikan beberapa tahun belakangan ini. Animo yang begitu besar mengakibatkan munculnya bank-bank syariah dalam jumlah yang sangat banyak di berbagai propinsi daerah di Indonesia tak terkecuali di kota Bukittinggi. Seperti jamur di musim hujan, pengelola bank syariah dan bank-bank konvensional berpacu melodi untuk ubah status menjadi bank syari’ah. Di samping tetap membuka bank konvensional juga sekaligus membuka bank syari’ah di berbagai tempat. Hal ini dilakukan untuk menyambut keinginan masyarakat muslim dengan harapan mendirikan bank syariah akan menjadikan masyarakat Bukittinggi bertranksaksi ala syari’ah.
Di satu sisi perkembangan ini cukup menggembirakan bagi syiarnya ajaran Islam di Indonesia, namun disisi lain praktek perbankan syariah tersebut perlu pengelolaan yang lebih matang, sehingga praktek bank syariah tersebut tidak hanya sekedar berganti nama dari bank konvensional menjadi bank yang berazaskan Islam. Akibatnya dari semangat awal masyarakat untuk berekonomi syari’ah hilang ruh syari’ahnya ketika bertransaksi. Sebagai contoh masyarakat ingin meminjam di bank syari’ah ternyata persyaratan dan prosedur hampir sama dengan bank konvensional. Bahkan yang lebih parah lagi proses peminjaman lebih sulit dan lama dari bank konvensional.
Sehingga kehadiran bank syariah yang dari awal kehadirannya untuk mengikis kekhawatiran umat dalam masalah riba sirna ketika mengetahui tidak ada esensi dan nilai yang berbeda dengan bank konvensional. Ini akan berakibat orang mulai meninggalkan bank syari’ah walaupun penulis sangat yakin bahwa masyarakat kota Bukittinggi adalah masyarakat yang agamis serta paham dengan nilai-nilai agama tetapi bila tidak ada keuntungan nyata orang tetap saja tidak puas dengan adanya keberadaan bank syari’ah tersebut.
Pengelola bank syariah yang diharapkan untuk menerapkan konsep manajemen syariah dalam pengelolaan bank tersebut hendaknya memberikan pemahaman yang jelas dan transparan terhadap calon-calon pengguna bank syari’ah tersebut. Tentunya wawasan mengenai perbankan dan manajemen syariah tersebut mesti diketahui banyak oleh masyarakat di kota Bukittinggi. Apa saja manfaat dan produknya.
Walaupun berbicara tentang syari’ah bukan hanya bank syari’ah saja, akan tetapi selama ini yang baru dipahami masyarakat kebanyakan baru bank syari’ah. Kota Bukittinggi sebagai kota perdagangan, pendidikan serta wisata memang bisa dijadikan sebagai lahan subur untuk bersemainya lembaga-lembaga syari’ah hidup dan berkembang di tengah-tengah kota Bukittinggi. Hal ini terbukti tercatat beberapa bank yang berskala nasional telah muncul di kota Bukittinggi dengan nama bank syari’ah. Hal ini tentu sangat menggairahkan pertumbuhan dan perkembangan kota Bukittinggi.
Akan tetapi tentu sejauhmana bank syari’ah ini tidak sekedar berganti kulit namun isi tetap sama dengan bank konvensional. Serta sejauhmana pemahaman masyarakat kota Bukittinggi akan keuntungan berekonomi dengan ala syari’ah baik keuntungan ukhrawi dan duniawi. Semoga kemunculan bank syari’ah di kota Bukittinggi ini menjadi sitawa sidingin bagi mereka yang akan berurusan dengan bank. Semoga.***
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat