Kebangkitan Pemuda Bukittinggi
Oleh Adlan Sanur Th,M.Ag
Alek pemuda kota Bukittinggi yang tertuang dalam Musyawarah Daerah Komitena Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) kota Bukittinggi sudah selesai dilaksanakan. Kegiatan Musda yang dilaksanakan dengan mengusung tema membangkitkan semangat jiwa berorganisasi kepemudaan di kota Bukittinggi terasa sangat menggugah. disaat mana OKP yang ada dib Bukittinggi sudah banyak vakum serta telah malas dan jemu berorganisasi (baca berkegiatan).
Padahal berorganisasi merupakan suatu penjelajahan yang menggunjang, menjebol batas, menemui malam, memasuki sebuah gelora yang meransang dan terus menerus dikejutkan dengan gagasan kritis nan cerdas dari pelaku, peserta dan pelaksana organisasi. Berorganisasi juga menjadi ajang silaturrahim antar insan di saat orang sudah mulai hidup individualis dan hedonis pada masa modern ini.
Tetapi fenomena yang muncul kemudian adalah selain orang sudah bosan mengikuti suatu organisasi dalam makna kadang-kadang ada nilai kerugian, juga sekaligus berorganisasi hanya hadir sebagai konsep rutin yang seremonial tanpa melalui kegiatan yang nyata. Bahkan paradigma yang juga cendrung salah adalah dengan aktif berorganisasi hanyalah untuk menghabiskan dana. Serta berorganisasi hanyalah untuk melakukan agenda rutin semata tanpa pernah melakukan analisa akan fungsi dari ikutnya seseorang untuk memasuki organisasi itu sendiri.
Oleh karena itu kegiatan musda ini dipandang sangat strategis terutama dalam kaitannya dengan tiga hal; pertama, keharusan Pemuda untuk selalu istiqamah mengemban misinya di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, baik sebagai sosial maupun sebagai gerakan nasional kebangsaan. Dengan melakukan kegiatan yang mendahulukan idealime. Kedua, kondisi actual dan masa depan Indonesia yang menantang partisisipasi aktif segenap komponen berbangsa dan bernegara. Antara lain: krisis ekonomi, transisi demokrasi yang penuh ketidakpastian, budaya bangsa yang kurang kondusif bagi terwujudnya dinamika, akhlak bangsa yang rapuh terhadap pelanggaran kemanusiaan dan konflik sosial. Ketiga, butuhnya pengurus yang mampu untuk mengakomidir situasi dan kondisi bangsa yang membutuhkan tangan-tangan dinamis pemuda untuk melakukan pembaharuan serta perubahan paradigma dan juga mampu memberikan kontribusi pemikiran dan tenaga.
Memang mesti diakui bahwa Gerakan KNPI, baik di era pemerintahan Orba maupun sekarang, nyaris masih terjebak dalam model mendukung pemerintah. Akibatnya, langkah yang diambil KNPI tidak begitu populer di kalangan anak muda, terlebih para mahasiswa, apalagi Ornop (organisasi Non Pemerintah). Ketika ormas-ormas mahasiswa ramai-ramai turun ke jalan menentang kebijakan pemerintah yang dinilai tidak adil bagi rakyat, dalam berbagai kesempatan, KNPI seolah menutup mata melihat berbagai kebijakan pemerintah yang keliru.
Sumbangan minim KNPI bagi bangsa inilah yang seharusnya membuat kita gelisah. Padahal, KNPI sebagai induk organisasi terbesar di tanah air, bahkan memiliki struktur organisasi sampai tingkat kabupaten, idealnya mampu menjadi motor penggerak yang turut serta menentukan arah bangsa.
KNPI sebagai laboaratorium kader, belum mampu menyentuh persoalan-persoalan riil bangsa ini. Padahal, generasi muda kita saat ini bukan saja dijejali berbagai macam ideologi yang cenderung menyesatkan, tapi juga dihadapkan pada persoalan yang lebih global, seperti seks bebas, narkoba, dan kejahatan terorganisasi lainnya.Transformasi gerakan moral KNPI di masa mendatang adalah mewujudkan generasi muda yang ramah dan tanggap terhadap fenomena sosial dengan Iandasan akhlak mulia.
Semoga dengan adanya Musyawarah Daerah ini dan terpilihnya ketua yang baru era kebangkitan pemuda di kota Bukittinggi kembali menggeliat. Tentunya hal ini bias berjalan bila seluruh stakeholder yang ada di kota Bukittinggi punya niat dan tujuan yang sama.***
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Selamat Datang
Selamat Datang di Blog Ini Tempat Anda Berbagi Informasi.
Anda bisa Mengambil Data yang ada selagi Mencamtumkan Tempat Pengambilan.
Anda bisa Mengambil Data yang ada selagi Mencamtumkan Tempat Pengambilan.
Rabu, 10 November 2010
Artikel Humas
Humas dan Perguruan Tinggi
Adlan Sanur Th
Humas biasa disingkat dengan hubungan masyarakat dan dalam bahasa asingnya biasa disebut dengan PR (Public Relation). Hubungan masyarakat atau Public Relations adalah suatu usaha yang sengaja dilakukan, direncanakan secara berkesinambungan untuk menciptakan saling pengertian antara sebuah lembaga/institusi dengan masyarakat atau lingkungan disekitarnya. Humas memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam mempromosikan sebuah organisasi atau institusi termasuk Perguruan Tinggi. Ibaratnya antara humas dan Perguruan Tinggi itu seperti mata uang yang saling membutuhkan satu sama lain dan menopang.
Berbicara mengenai Humas (PR), ianya adalah sebuah seni sekaligus ilmu sosial dalam menganalisa kecenderungan, meramalkan konsekuensinya, memberikan pengarahan kepada pimpinan institusi/lembaga dan melaksanakan program-program terencana yang dapat memenuhi kepentingan baik institusi maupun lembaga tersebut maupun masyarakat yang terkait. Pada hakekatnya makna dari "hubungan masyarakat" (humas, kehumasan, public relations) adalah prilaku atau sikap untuk menjadi tetangga dan warga yang baik (to be a good neighbour and citizen). Sudah tentu humas menjadi garda terdepan dalam meramu dan meracik sebuah perguruan tinggi untuk bisa dinikmati dan diketahui oleh orang lain dan membuatnya tertarik untuk memasuki perguruan tinggi tersebut.
Pekerjaan utama baca inti dari PR sebenarnya adalah Human Relation (HR) yang bukan hanya sekedar hubungan antar manusia, tetapi lebih bersifat interaksi antara seseorang dengan orang lain, memperhatikan orang lain, bersikap ramah dan jujur. Sebagai contoh umpamanya jika setiap PRO (Public Relations Officer) mempunyai human relations yang baik yang mencerminkan sikap tersebut, dijamin akan membuat orang lain yang dihadapinya senang dan puas.
Dalam arti luas HR berarti komunikasi yang persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan sehingga menimbulkan kepuasan kedua belah pihak. Dalam arti sempit penekanan HR pada situasi kerja atau dalam bidang organisasi (kelompok) bertujuan menggugah kegairahan dan kegiatan bekerja, kerja sama yang produktif yang diwarnai dengan rasa bahagia dan puas hati. Tetapi paradigma yang tertanam di masyarakat selama ini adalah humas berkaitan dengan menjalin hubungan dengan media lain katakanlah dengan media massa.
Memang untuk menjadi seorang Human Relation bukanlah hal yang mudah perlu menguasai prinsip-prinsip dari ilmu komunikasi. Komunikasi dalam bahasa Latin tertulis "communication" yang berarti "berbagi" atau "menjadi milik bersama". Sedangkan dalam kamus "Webster's New Collegiate Dicationary" ed. 1977, komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi di antara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda dan tingkah laku". Bagi perguruan tinggi tentu kalau ingin maju mesti membangun jaringan (networking) dengan institusi lainnya.
Kota Bukittinggi terkenal dengan julukan kota pendidikan selain kota wisata dan perdagangan dengan berbagai Perguruan Tinggi yang tumbuh dan berkembang. Dalam situs kota Bukittinggi dilansir tentang jumlah perguruan tinggi yang ada di kota Bukittinggi. Setidaknya terdapat 14 Perguruan Tinggi yang tercatat di dinas Pendidikan baik negeri maupun swasta. Ini merupakan potensi yang besar bagi kota Bukittinggi. Pertanyaannya kemudian apakah perguruan tinggi di kota Bukittinggi sudah punya humas atau apapun namanya untuk mempromosikan perguruan tingginya? Jangan-jangan untuk mencari berita dari kuli tinta (wartawan) terhadap perguruan tinggipun terasa susah. Siapa yang akan ditemui, dan dimana data yang bisa diambil dari perguruan tinggi masih terasa sulit bagi media lain. Mudah-mudahan ini menjadi pemikiran bagi semua perguruan tinggi yang ada di kota Bukittinggi.
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Adlan Sanur Th
Humas biasa disingkat dengan hubungan masyarakat dan dalam bahasa asingnya biasa disebut dengan PR (Public Relation). Hubungan masyarakat atau Public Relations adalah suatu usaha yang sengaja dilakukan, direncanakan secara berkesinambungan untuk menciptakan saling pengertian antara sebuah lembaga/institusi dengan masyarakat atau lingkungan disekitarnya. Humas memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam mempromosikan sebuah organisasi atau institusi termasuk Perguruan Tinggi. Ibaratnya antara humas dan Perguruan Tinggi itu seperti mata uang yang saling membutuhkan satu sama lain dan menopang.
Berbicara mengenai Humas (PR), ianya adalah sebuah seni sekaligus ilmu sosial dalam menganalisa kecenderungan, meramalkan konsekuensinya, memberikan pengarahan kepada pimpinan institusi/lembaga dan melaksanakan program-program terencana yang dapat memenuhi kepentingan baik institusi maupun lembaga tersebut maupun masyarakat yang terkait. Pada hakekatnya makna dari "hubungan masyarakat" (humas, kehumasan, public relations) adalah prilaku atau sikap untuk menjadi tetangga dan warga yang baik (to be a good neighbour and citizen). Sudah tentu humas menjadi garda terdepan dalam meramu dan meracik sebuah perguruan tinggi untuk bisa dinikmati dan diketahui oleh orang lain dan membuatnya tertarik untuk memasuki perguruan tinggi tersebut.
Pekerjaan utama baca inti dari PR sebenarnya adalah Human Relation (HR) yang bukan hanya sekedar hubungan antar manusia, tetapi lebih bersifat interaksi antara seseorang dengan orang lain, memperhatikan orang lain, bersikap ramah dan jujur. Sebagai contoh umpamanya jika setiap PRO (Public Relations Officer) mempunyai human relations yang baik yang mencerminkan sikap tersebut, dijamin akan membuat orang lain yang dihadapinya senang dan puas.
Dalam arti luas HR berarti komunikasi yang persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan sehingga menimbulkan kepuasan kedua belah pihak. Dalam arti sempit penekanan HR pada situasi kerja atau dalam bidang organisasi (kelompok) bertujuan menggugah kegairahan dan kegiatan bekerja, kerja sama yang produktif yang diwarnai dengan rasa bahagia dan puas hati. Tetapi paradigma yang tertanam di masyarakat selama ini adalah humas berkaitan dengan menjalin hubungan dengan media lain katakanlah dengan media massa.
Memang untuk menjadi seorang Human Relation bukanlah hal yang mudah perlu menguasai prinsip-prinsip dari ilmu komunikasi. Komunikasi dalam bahasa Latin tertulis "communication" yang berarti "berbagi" atau "menjadi milik bersama". Sedangkan dalam kamus "Webster's New Collegiate Dicationary" ed. 1977, komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi di antara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda dan tingkah laku". Bagi perguruan tinggi tentu kalau ingin maju mesti membangun jaringan (networking) dengan institusi lainnya.
Kota Bukittinggi terkenal dengan julukan kota pendidikan selain kota wisata dan perdagangan dengan berbagai Perguruan Tinggi yang tumbuh dan berkembang. Dalam situs kota Bukittinggi dilansir tentang jumlah perguruan tinggi yang ada di kota Bukittinggi. Setidaknya terdapat 14 Perguruan Tinggi yang tercatat di dinas Pendidikan baik negeri maupun swasta. Ini merupakan potensi yang besar bagi kota Bukittinggi. Pertanyaannya kemudian apakah perguruan tinggi di kota Bukittinggi sudah punya humas atau apapun namanya untuk mempromosikan perguruan tingginya? Jangan-jangan untuk mencari berita dari kuli tinta (wartawan) terhadap perguruan tinggipun terasa susah. Siapa yang akan ditemui, dan dimana data yang bisa diambil dari perguruan tinggi masih terasa sulit bagi media lain. Mudah-mudahan ini menjadi pemikiran bagi semua perguruan tinggi yang ada di kota Bukittinggi.
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Artikel AIDS
HIV/Aids di Kota Bukittinggi
Adlan Sanur Th
Pertumbuhan dan perkembangan pengidap penyakit HIV/Aids di kota Bukittinggi cukup memprihatinkan dan mencengangkan. Dari berbagai sumber dikatakan bahwa kota Bukittinggi jauh melampaui dari kota atau Kabupaten yang ada di Sumatera Barat dalah hal jumlah pengidap penyakit ini. Walaupun belum ada yang melakukan survey terhadap kota/Kabupaten mengenai jumlah dengan angka pasti tentang berapa jumlah pengidap penyakit ini serta keberadaannya sehingga akan berimplikasi pada posisi/rangking masing-masing Kota/Kabupaten. Sebab para penderita ini walaupun sudah punya komunitas atau kelompok yang peduli namun mereka tidak mau secara terbuka untuk menyebutkan jumlah apalagi identitas yang terjangkit penyakit ini. Tentunya hal ini hak mereka serta untuk menjaga factor psikologis dan adanya pertimbangan lain.
Sebagaimana yang ditulis oleh Muhammad Subhan dalam Detak Jam Gadang tentang Mari Mewaspadai HIV/Aids memang cukup memiriskan dan memilukan serta patut untuk jadi bahan perhatian seluruh komponen masyarakat yang di kota Bukittinggi. Penyakit yang mematikan ini ternyata telah tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat kota Bukittinggi bahkan telah beranak pinak, menjalar dan pindah dari satu generasi kegerasi lain tanpa terkecuali anak remaja yang masih menginjak bangku pendidikan di kota Bukittinggi yang katanya pendidikan berbasis aqidah.
Walaupun setiap tahun kegiatan untuk penangulangan HIV/Aids dan pemberantasan Narkoba di kota Bukittinggi selalu diperingati dan bahkan dananya dianggarkan untuk kegiatan tersebut. Tapi pertanyaannya sudah sejauh mana kegiatan ini mampu untuk meminimalisir dan tindakan-tindakan preventif dilakukan oleh pemerintah beserta stakeholders yang ada di pemerintah dalam pencegahan penyebaran penyakit ini? Sudah adakah evaluasi kegiatan dilakukan setiap tahun untuk melihat kegiatan setiap tahun berikutnya dalam rangka untuk kegiatan yang berkesinambungan. Kalau sudah artinya ada kemajuan yang dilakukan. Sehingga setiap tahun akan ada titik focus penuntasan persoalan dan tidak berulang-ulang yang itu-itu saja. Seperti contoh biaya berobat yang mahal bagi pengidap penyakit ini apakah sudah ditingkatkan anggarannya setiap tahun atau tidak terkecuali termasuk fasilitas lainnya.
Kegiatan pemberdayaan ekonomi dan bantuan konsultasi psikologis bagi pengidap penyakit ini apakah juga sudah pernah dilakukan sehingga mereka tidak merasa tersisih dari tengah-tengah masyarakat sekitarnya dan punya penghasilan tetap. Karena syukur-syukur mereka punya pekerjaan tetap kalau tidak ini juga akan menimbulkan persoalan baru. Sebab bisa saja mereka yang mengidap penyakit ini ada ditengah-tengah masyarakat bahkan ada di keluarga kita sendiri. Karena memang dengan adanya komunitas mereka akan memudahkan untuk menjangkau kepada temannya yang lain.
Seiring dengan derasnya pemberantasan narkoba di kota Bukittinggi sewajarnyalah sejalan dengan kewaspadaan untuk mencegah penyakit ini. Diperlukan sangat perhatian diberikan oleh berbagai pihak yang ada baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat sendiri. Segala komponen masyarakat dibawa untuk seia sekata bersama-sama. Kota Bukittinggi sebagai kota wisata, pendidikan dan perdagangan hendaknya tidak bertambah pula dengan kota kunjungan HIV/Aids atau bahkan kota wisata HIV/Aids. Kota Bukittinggi yang selalu mendapat nomor wahid dalam bidang pendidikan di Sumatera Barat juga para pendidik/pihak sekolah untuk mengingatkan para peserta didiknya untuk membatasi diri dari pergaulan bebas dan narkoba. Kalau semua pihak sudah berpartisipasi aktif mudah-mudahan pencegahannya akan mudah dan para pengidapnya akan berkurang. Semoga.***
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Adlan Sanur Th
Pertumbuhan dan perkembangan pengidap penyakit HIV/Aids di kota Bukittinggi cukup memprihatinkan dan mencengangkan. Dari berbagai sumber dikatakan bahwa kota Bukittinggi jauh melampaui dari kota atau Kabupaten yang ada di Sumatera Barat dalah hal jumlah pengidap penyakit ini. Walaupun belum ada yang melakukan survey terhadap kota/Kabupaten mengenai jumlah dengan angka pasti tentang berapa jumlah pengidap penyakit ini serta keberadaannya sehingga akan berimplikasi pada posisi/rangking masing-masing Kota/Kabupaten. Sebab para penderita ini walaupun sudah punya komunitas atau kelompok yang peduli namun mereka tidak mau secara terbuka untuk menyebutkan jumlah apalagi identitas yang terjangkit penyakit ini. Tentunya hal ini hak mereka serta untuk menjaga factor psikologis dan adanya pertimbangan lain.
Sebagaimana yang ditulis oleh Muhammad Subhan dalam Detak Jam Gadang tentang Mari Mewaspadai HIV/Aids memang cukup memiriskan dan memilukan serta patut untuk jadi bahan perhatian seluruh komponen masyarakat yang di kota Bukittinggi. Penyakit yang mematikan ini ternyata telah tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat kota Bukittinggi bahkan telah beranak pinak, menjalar dan pindah dari satu generasi kegerasi lain tanpa terkecuali anak remaja yang masih menginjak bangku pendidikan di kota Bukittinggi yang katanya pendidikan berbasis aqidah.
Walaupun setiap tahun kegiatan untuk penangulangan HIV/Aids dan pemberantasan Narkoba di kota Bukittinggi selalu diperingati dan bahkan dananya dianggarkan untuk kegiatan tersebut. Tapi pertanyaannya sudah sejauh mana kegiatan ini mampu untuk meminimalisir dan tindakan-tindakan preventif dilakukan oleh pemerintah beserta stakeholders yang ada di pemerintah dalam pencegahan penyebaran penyakit ini? Sudah adakah evaluasi kegiatan dilakukan setiap tahun untuk melihat kegiatan setiap tahun berikutnya dalam rangka untuk kegiatan yang berkesinambungan. Kalau sudah artinya ada kemajuan yang dilakukan. Sehingga setiap tahun akan ada titik focus penuntasan persoalan dan tidak berulang-ulang yang itu-itu saja. Seperti contoh biaya berobat yang mahal bagi pengidap penyakit ini apakah sudah ditingkatkan anggarannya setiap tahun atau tidak terkecuali termasuk fasilitas lainnya.
Kegiatan pemberdayaan ekonomi dan bantuan konsultasi psikologis bagi pengidap penyakit ini apakah juga sudah pernah dilakukan sehingga mereka tidak merasa tersisih dari tengah-tengah masyarakat sekitarnya dan punya penghasilan tetap. Karena syukur-syukur mereka punya pekerjaan tetap kalau tidak ini juga akan menimbulkan persoalan baru. Sebab bisa saja mereka yang mengidap penyakit ini ada ditengah-tengah masyarakat bahkan ada di keluarga kita sendiri. Karena memang dengan adanya komunitas mereka akan memudahkan untuk menjangkau kepada temannya yang lain.
Seiring dengan derasnya pemberantasan narkoba di kota Bukittinggi sewajarnyalah sejalan dengan kewaspadaan untuk mencegah penyakit ini. Diperlukan sangat perhatian diberikan oleh berbagai pihak yang ada baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat sendiri. Segala komponen masyarakat dibawa untuk seia sekata bersama-sama. Kota Bukittinggi sebagai kota wisata, pendidikan dan perdagangan hendaknya tidak bertambah pula dengan kota kunjungan HIV/Aids atau bahkan kota wisata HIV/Aids. Kota Bukittinggi yang selalu mendapat nomor wahid dalam bidang pendidikan di Sumatera Barat juga para pendidik/pihak sekolah untuk mengingatkan para peserta didiknya untuk membatasi diri dari pergaulan bebas dan narkoba. Kalau semua pihak sudah berpartisipasi aktif mudah-mudahan pencegahannya akan mudah dan para pengidapnya akan berkurang. Semoga.***
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Artikel Tim Seleksi KPU
Hati-hati Tim Seleksi KPU
Adlan Sanur
Greget pemilihan Tim Seleksi (Timsel) Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) untuk Kota/Kabupaten sudah hampir rampung tinggal menunggu SK saja lagi. Hampir semua kota/kabupaten yang ada di propinsi Sumatera Barat telah melewati masa demam pengiriman bahan-bahan untuk menjadi Tim seleksi KPU kecuali kota Padang Panjang, Padang, Pariaman dan Sawahlunto yang Pilkadanya sudah dekat jadi KPU yang lama diperpanjang masa kerjanya. Namun ada wacana untuk tetap membentuk Tim Seleksi pada empat kota yang akan mengadakan Pilkada tersebut.
Tim seleksi yang dibentuk oleh KPU Provinsi untuk menseleksi calon anggota KPU Kabupaten/Kota pada setiap kabupaten/kota berjumlah lima orang yang berasal dari unsur akademisi, professional dan masyarakat yang memiliki integritas dan tidak menjadi anggota partai politik dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Sesuai dengan amanat Undang-undang no.22 tahun 2007 bahwa keanggotaan Tim Seleksi terdiri dari satu orang anggota yang diajukan oleh bupati/walikota, dua orang anggota yang diajukan oleh DPRD kabupaten/kota, dan dua orang anggota yang diajukan oleh KPU Propinsi.
Sesudah terbentuknya Tim Seleksi akan dilanjutkan pada proses untuk pemilihan calon Anggota KPU, dimana Tim Seleksi mengajukan 10 (sepuluh) nama calon anggota KPU Kabupate/Kota hasil seleksi kepada KPU Propinsi. Tentu juga akan terjadi demam untuk menjadi anggota KPU di Kabupaten/Kota. Demam ini paling tidak sibuk dengan kegiatan-kegiatan untuk melengkapi persyaratan menjadi anggota KPU.
Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah untuk melakukan pendekatan-pendekatan kepada pihak Tim Seleksi untuk bisa lolos menuju kursi anggota KPU. Memang tidak bisa ditepis bahwa Tim Seleksi ini tidak bisa lepas dari muatan-muatan politis karena memang mereka akan memilih KPU yang jadi wasit dalam proses pemilihan orang-orang politik baca partai politik. Memang fungsi dan tugas Tim Seleksi ini telah diatur oleh Undang-undang dimana, Tim Seleksi melaksanakan tugasnya secara terbuka dengan melibatkan partisipasi masyarakat serta tim dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu atau berkoordinasi dengan lembaga yang memiliki kompetensi pada bidang yang diperlukan.
Setidaknya harapan memang tertumpang banyak pada Tim Seleksi untuk selalu independen dan objektif. Sebab perbaikan bangsa dan demokratisasi dimulai dari hal ini. Para anggota Tim Seleksi yang ditunjuk mestilah mencitrakan diri sebagai manusia pilihan(insan kamil) dalam rangka melakukan perubahan dan mengawal demokrasi di negara ini. Sebagai contoh masuknya unsur kalangan akademisi setidaknya akan menjaga otonomi dari Tim Seleksi, sebab paradigma yang tertanam selama ini di tengah-tengah masyarakat memang kalangan akademisi masih dianggap independen (yang punya moral) dan bisa otonomi untuk tidak terjebak pada suasana politik dan lobbi yang ada. Tapi permasalahannya kemudian apakah masuknya kalangan akademisi ini tidak menjadikan mereka untuk terjebak pada politik praktis? Setidaknya orang mengatakan bahwa dunia kampus adalah dunia idealis dan dunia untuk mengatakan yang haq (benar).
Memang disadari atau tidak jebakan politik selalu saja bermain pada tataran apapun untuk mendapatkan sesuatu. Siapapun tentu akan selalu menyiapkan amunisi politik untuk meraih harapan. Logistik politik dan kapasitas individu memang kadang-kadang sejalan untuk meraih peluang ini. Loby dan money politik kadang-kadang sudah menjadi barang halal untuk mendapatkan sesuatu baca jabatan.
Semua bisa saja bermain dan jadi pemain tetapi sekali lagi bahwa anggota Tim Seleksi merupakan orang-orang terbaik dari yang baik di kabupaten/kota. Semoga iming-iming dan janji-janji muluk tidak membuat terlena para Tim Seleksi dan tetap mendahulukan aturan main sehingga tidak mencederai proses demorasi yang telah dibangun. Logika sehat tetap didahulukan untuk menentukan siapa yang patut menjadi anggota KPU Kabupaten/kota. Selamat duduk jadi Tim Seleksi dan ekstra hati-hati, moga-moga dapat memilih anggota KPU yang lebih baik untuk pemilihan 2009 ini.
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Adlan Sanur
Greget pemilihan Tim Seleksi (Timsel) Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) untuk Kota/Kabupaten sudah hampir rampung tinggal menunggu SK saja lagi. Hampir semua kota/kabupaten yang ada di propinsi Sumatera Barat telah melewati masa demam pengiriman bahan-bahan untuk menjadi Tim seleksi KPU kecuali kota Padang Panjang, Padang, Pariaman dan Sawahlunto yang Pilkadanya sudah dekat jadi KPU yang lama diperpanjang masa kerjanya. Namun ada wacana untuk tetap membentuk Tim Seleksi pada empat kota yang akan mengadakan Pilkada tersebut.
Tim seleksi yang dibentuk oleh KPU Provinsi untuk menseleksi calon anggota KPU Kabupaten/Kota pada setiap kabupaten/kota berjumlah lima orang yang berasal dari unsur akademisi, professional dan masyarakat yang memiliki integritas dan tidak menjadi anggota partai politik dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Sesuai dengan amanat Undang-undang no.22 tahun 2007 bahwa keanggotaan Tim Seleksi terdiri dari satu orang anggota yang diajukan oleh bupati/walikota, dua orang anggota yang diajukan oleh DPRD kabupaten/kota, dan dua orang anggota yang diajukan oleh KPU Propinsi.
Sesudah terbentuknya Tim Seleksi akan dilanjutkan pada proses untuk pemilihan calon Anggota KPU, dimana Tim Seleksi mengajukan 10 (sepuluh) nama calon anggota KPU Kabupate/Kota hasil seleksi kepada KPU Propinsi. Tentu juga akan terjadi demam untuk menjadi anggota KPU di Kabupaten/Kota. Demam ini paling tidak sibuk dengan kegiatan-kegiatan untuk melengkapi persyaratan menjadi anggota KPU.
Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah untuk melakukan pendekatan-pendekatan kepada pihak Tim Seleksi untuk bisa lolos menuju kursi anggota KPU. Memang tidak bisa ditepis bahwa Tim Seleksi ini tidak bisa lepas dari muatan-muatan politis karena memang mereka akan memilih KPU yang jadi wasit dalam proses pemilihan orang-orang politik baca partai politik. Memang fungsi dan tugas Tim Seleksi ini telah diatur oleh Undang-undang dimana, Tim Seleksi melaksanakan tugasnya secara terbuka dengan melibatkan partisipasi masyarakat serta tim dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu atau berkoordinasi dengan lembaga yang memiliki kompetensi pada bidang yang diperlukan.
Setidaknya harapan memang tertumpang banyak pada Tim Seleksi untuk selalu independen dan objektif. Sebab perbaikan bangsa dan demokratisasi dimulai dari hal ini. Para anggota Tim Seleksi yang ditunjuk mestilah mencitrakan diri sebagai manusia pilihan(insan kamil) dalam rangka melakukan perubahan dan mengawal demokrasi di negara ini. Sebagai contoh masuknya unsur kalangan akademisi setidaknya akan menjaga otonomi dari Tim Seleksi, sebab paradigma yang tertanam selama ini di tengah-tengah masyarakat memang kalangan akademisi masih dianggap independen (yang punya moral) dan bisa otonomi untuk tidak terjebak pada suasana politik dan lobbi yang ada. Tapi permasalahannya kemudian apakah masuknya kalangan akademisi ini tidak menjadikan mereka untuk terjebak pada politik praktis? Setidaknya orang mengatakan bahwa dunia kampus adalah dunia idealis dan dunia untuk mengatakan yang haq (benar).
Memang disadari atau tidak jebakan politik selalu saja bermain pada tataran apapun untuk mendapatkan sesuatu. Siapapun tentu akan selalu menyiapkan amunisi politik untuk meraih harapan. Logistik politik dan kapasitas individu memang kadang-kadang sejalan untuk meraih peluang ini. Loby dan money politik kadang-kadang sudah menjadi barang halal untuk mendapatkan sesuatu baca jabatan.
Semua bisa saja bermain dan jadi pemain tetapi sekali lagi bahwa anggota Tim Seleksi merupakan orang-orang terbaik dari yang baik di kabupaten/kota. Semoga iming-iming dan janji-janji muluk tidak membuat terlena para Tim Seleksi dan tetap mendahulukan aturan main sehingga tidak mencederai proses demorasi yang telah dibangun. Logika sehat tetap didahulukan untuk menentukan siapa yang patut menjadi anggota KPU Kabupaten/kota. Selamat duduk jadi Tim Seleksi dan ekstra hati-hati, moga-moga dapat memilih anggota KPU yang lebih baik untuk pemilihan 2009 ini.
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Artikel Nyiak Djambek
Inyiak Djambek
Tokoh Lokal yang Menasional
Oleh: Adlan Sanur Th*
Banyak sebenarnya mutiara yang terpendam di dasar atau di daerah/lokal yang belum pernah disentuh atau diangkat menjadi tokoh idola oleh generasi muda Sumatera Barat termasuk kota Bukittinggi. Kalau kita bernostalgia ke masa lampau dimana Ranah Minang yang sarat kwalitas dan kwantitas ulama yang sudah menasional tentu tidak diragukan lagi. Di samping banyaknya ulama kharismatik juga ditambah dengan munculnya madrasah-madrasah yang ada di Sumatera Barat. Salah satu di antara tokoh yang banyak itu adalah Syaikh Muhammad Djamil Djambek atau biasa disebut dengan Inyiak Djambek.
Ketokohan, cerita, tulisan baik artikel maupun opini dan kepopuleran Inyiak Djambek bisa dilacak baik melalui buku juga situs-situs internet bisa di ketahui. Selain yayasan juga STAIN ”Sjech. M.Djamil Djambek” Bukittinggi serta surau Sjech.M.Djamil Djambek menjadi icon yang memakai nama dari Inyiak Djambek. Memang kita sangat miris pada akhir-akhir ini dimana generasi muda tidak banyak mengetahui tokoh-tokoh apalagi ulama yang ada di daerahnya tanpa terkecuali Bukittinggi khususnya dan Sumatera Barat umumnya.
Acara perhelatan akbar dalam rangka memperingati 100 tahun Surau Sjech. M.Djamil Djambek di Bukittinggi yang dikemas dengan Seminar nasional menampilkan Prof. Dr. H. Syafi’i Ma’arif, M.A dan bedah buku Dr.H.M Syafi’i Antonio, M.Ec serta Tabligh Akbar dengan pembicara Ustaz H.Yusuf Mansur serta H. Mas’oed Abidin dan dipandu oleh artis Nasional Andrian Maulana dan Zaskia A.Mecca selanjutnya acara ini dibuka oleh Menteri Sosial Bapak Drs.Bachtiar Chamsah membuktikan bahwa inyiak Djambek bukanlah hanya tokoh lokal tapi juga sudah menasional.
Inyiak Djambek sebagai seorang ulama inovator dan berfikiran moderat banyak sekali melakukan terobosan-terobosan cemerlang. Melakukan kritik terhadap tarekat, mengganti bacaan barzanji pada acara Maulid dengan acara pengajian biasa (atau melacak history Nabi Muhammad), mempunyai kemampuan dalam ilmu falak, menggagas acara khatam al-Qur’an serta sejumlah terobosan lainnya membuktikan bahwa inyiak Djambek adalah tokoh yang patut untuk selalu dikenang dan dijadikan kazanah intelektual.
Agaknya tidaklah salah kalau Pemerintah Daerah baik Propinsi Sumatera Barat maupun kota Bukittinggi memberikan perhatian dan apresiasi akan ketokohan serta ide-ide cemerlang yang dilontarkan oleh inyiak Djambek. Sebagai ulama pembaharu sewajarnyalah pemikiran beliau ini tetap dilakukan kajian atau penelitian supaya tetap membumi dan bisa dijadikan uswah. Istilah ”mambangkiak batang tarandam” dalam bidang adat biasanya dipakai tidaklah salah untuk kita lontarkan kembali terhadap ide-ide inyiak Djambek yang sudah mulai hilang dan dilupakan untuk kembali diangkat walaupun tidak terandam betul.*
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Tokoh Lokal yang Menasional
Oleh: Adlan Sanur Th*
Banyak sebenarnya mutiara yang terpendam di dasar atau di daerah/lokal yang belum pernah disentuh atau diangkat menjadi tokoh idola oleh generasi muda Sumatera Barat termasuk kota Bukittinggi. Kalau kita bernostalgia ke masa lampau dimana Ranah Minang yang sarat kwalitas dan kwantitas ulama yang sudah menasional tentu tidak diragukan lagi. Di samping banyaknya ulama kharismatik juga ditambah dengan munculnya madrasah-madrasah yang ada di Sumatera Barat. Salah satu di antara tokoh yang banyak itu adalah Syaikh Muhammad Djamil Djambek atau biasa disebut dengan Inyiak Djambek.
Ketokohan, cerita, tulisan baik artikel maupun opini dan kepopuleran Inyiak Djambek bisa dilacak baik melalui buku juga situs-situs internet bisa di ketahui. Selain yayasan juga STAIN ”Sjech. M.Djamil Djambek” Bukittinggi serta surau Sjech.M.Djamil Djambek menjadi icon yang memakai nama dari Inyiak Djambek. Memang kita sangat miris pada akhir-akhir ini dimana generasi muda tidak banyak mengetahui tokoh-tokoh apalagi ulama yang ada di daerahnya tanpa terkecuali Bukittinggi khususnya dan Sumatera Barat umumnya.
Acara perhelatan akbar dalam rangka memperingati 100 tahun Surau Sjech. M.Djamil Djambek di Bukittinggi yang dikemas dengan Seminar nasional menampilkan Prof. Dr. H. Syafi’i Ma’arif, M.A dan bedah buku Dr.H.M Syafi’i Antonio, M.Ec serta Tabligh Akbar dengan pembicara Ustaz H.Yusuf Mansur serta H. Mas’oed Abidin dan dipandu oleh artis Nasional Andrian Maulana dan Zaskia A.Mecca selanjutnya acara ini dibuka oleh Menteri Sosial Bapak Drs.Bachtiar Chamsah membuktikan bahwa inyiak Djambek bukanlah hanya tokoh lokal tapi juga sudah menasional.
Inyiak Djambek sebagai seorang ulama inovator dan berfikiran moderat banyak sekali melakukan terobosan-terobosan cemerlang. Melakukan kritik terhadap tarekat, mengganti bacaan barzanji pada acara Maulid dengan acara pengajian biasa (atau melacak history Nabi Muhammad), mempunyai kemampuan dalam ilmu falak, menggagas acara khatam al-Qur’an serta sejumlah terobosan lainnya membuktikan bahwa inyiak Djambek adalah tokoh yang patut untuk selalu dikenang dan dijadikan kazanah intelektual.
Agaknya tidaklah salah kalau Pemerintah Daerah baik Propinsi Sumatera Barat maupun kota Bukittinggi memberikan perhatian dan apresiasi akan ketokohan serta ide-ide cemerlang yang dilontarkan oleh inyiak Djambek. Sebagai ulama pembaharu sewajarnyalah pemikiran beliau ini tetap dilakukan kajian atau penelitian supaya tetap membumi dan bisa dijadikan uswah. Istilah ”mambangkiak batang tarandam” dalam bidang adat biasanya dipakai tidaklah salah untuk kita lontarkan kembali terhadap ide-ide inyiak Djambek yang sudah mulai hilang dan dilupakan untuk kembali diangkat walaupun tidak terandam betul.*
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Artikel Dakwah
Dakwah yang Sejuk
Oleh: Adlan Sanur Th, M.Ag
Berdakwah sering dipahami oleh masyarakat sama dengan bertabligh atau berceramah atau mengaji walapun tidak bisa dipungkiri bahwa tabligh merupakan salah satu bagian dari metode dakwah. Setidaknya bagi kaum muslimin setiap sekali seminggu atau hari jumat umat Islam mendengarkan pengajian atau dakwah yang disebut dengan khutbah jumat.
Memang untuk menjadi seorang da’i bukanlah pilihan yang mudah. Selain punya keikhlasan juga mesti punya modal kemauan yang kuat. Oleh sebab itu keberhasilan seorang mubaligh dalam melaksanakan kegiatan dakwahnya akan sangat bergantung kepada kemampuannya dalam menguasai audiens dan penguasaannya terhadap materi. Kedua faktor ini disinyalir sebagai penentu keberhasilan dakwah.
Namun demikian, kegiatan profesi sebagai seorang mubaligh sering dipandang banyak orang sebagai ilmu dan seni. Ilmu dengan makna bahwa keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatihkan, namun disisi lain, kemampuan berdakwah merupakan talenta yang sudah dibawa sejak lahir, tapi dapat dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan.
Sebagai masyarakat awam yang bertindak sebagai pendengar tentu kita membutuhkan dakwah yang sejuk ini yaitu dakwah yang bisa diterima oleh masyarakat dan sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Dakwah yang memakai bahasa yang santun sehingga zuq nya akan terasa bagi orang yang mendengarkan dan menimbulkan keinginan atau motivasi bagi yang mendengarkan untuk terus mencari dan menggali ilmu agama. Bukan dakwah yang mengedepankan emosi dan semangat berapi-api tanpa sarat akan muatan makna yang bisa diambil
Sebagai salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari agama memang dakwah merupakan sarana yang tepat untuk memberikan ketenangan dan kesejukan bagi umat sekaligus tempat untuk mencari contoh terhadap para penyampai. Sudah saatnya para ustaz, muballigh, buya dan para ahli agama lainnya untuk merenung dan mengkoreksi apakah dakwah kita sudah mengena pada masyarakat. Jangan-jangan orang mendengarkan pengajian adalah untuk mencari hiburan dan seremonial agama belaka. Kalau begitu wajarlah semakin banyak pengajian justru kejahatan, korupsi, maksiat dan perbuatan dosa semakin meraja lela. Wallahu a’lam.***
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Oleh: Adlan Sanur Th, M.Ag
Berdakwah sering dipahami oleh masyarakat sama dengan bertabligh atau berceramah atau mengaji walapun tidak bisa dipungkiri bahwa tabligh merupakan salah satu bagian dari metode dakwah. Setidaknya bagi kaum muslimin setiap sekali seminggu atau hari jumat umat Islam mendengarkan pengajian atau dakwah yang disebut dengan khutbah jumat.
Memang untuk menjadi seorang da’i bukanlah pilihan yang mudah. Selain punya keikhlasan juga mesti punya modal kemauan yang kuat. Oleh sebab itu keberhasilan seorang mubaligh dalam melaksanakan kegiatan dakwahnya akan sangat bergantung kepada kemampuannya dalam menguasai audiens dan penguasaannya terhadap materi. Kedua faktor ini disinyalir sebagai penentu keberhasilan dakwah.
Namun demikian, kegiatan profesi sebagai seorang mubaligh sering dipandang banyak orang sebagai ilmu dan seni. Ilmu dengan makna bahwa keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatihkan, namun disisi lain, kemampuan berdakwah merupakan talenta yang sudah dibawa sejak lahir, tapi dapat dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan.
Sebagai masyarakat awam yang bertindak sebagai pendengar tentu kita membutuhkan dakwah yang sejuk ini yaitu dakwah yang bisa diterima oleh masyarakat dan sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Dakwah yang memakai bahasa yang santun sehingga zuq nya akan terasa bagi orang yang mendengarkan dan menimbulkan keinginan atau motivasi bagi yang mendengarkan untuk terus mencari dan menggali ilmu agama. Bukan dakwah yang mengedepankan emosi dan semangat berapi-api tanpa sarat akan muatan makna yang bisa diambil
Sebagai salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari agama memang dakwah merupakan sarana yang tepat untuk memberikan ketenangan dan kesejukan bagi umat sekaligus tempat untuk mencari contoh terhadap para penyampai. Sudah saatnya para ustaz, muballigh, buya dan para ahli agama lainnya untuk merenung dan mengkoreksi apakah dakwah kita sudah mengena pada masyarakat. Jangan-jangan orang mendengarkan pengajian adalah untuk mencari hiburan dan seremonial agama belaka. Kalau begitu wajarlah semakin banyak pengajian justru kejahatan, korupsi, maksiat dan perbuatan dosa semakin meraja lela. Wallahu a’lam.***
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Artikel Da'i
Da’i dan Bukittinggi
Adlan Sanur
Kesadaran dan panggilan untuk berdakwah sudah terjadi dan dimulai sejak zaman dahulu. Dakwah yang pertama itu dimulai dari sejak zaman Rasulullah SAW sampai dengan masa pertengahan. Sebab Muhammad sebagai utusan Allah juga berfungsi sebagai seorang penda’i. Mengajak manusia dari alam kegelapan kepada alam yang terang benerang. Memang untuk melihat kepemimpinan umat Islam yang memajukan peradaban umat manusia, maka dakwah Islam tidak bisa dilupakan sejarah.
Secara historis sosiologis, baru pada abad sekarang ini umat Islam sadar bahwa Islam benar-benar tertantang memasuki panggung dakwah berskala global, yang antara lain disebabkan oleh revolusi teknologi transportasi dan komunikasi. Ketika sistem informasi dibantu satelit, seluruh bumi menjadi kecil. Dalam waktu yang bersamaan kita dapat memperoleh informasi dan gambar tentang peristiwa yang terjadi di belahan bumi. Dunia memang semakin modern dan maju. Peralatan yang dipakai manusia semakin canggih. Inilah yang oleh orang banyak menyebut era teknologi.
Manusia semakin mudah menggapai keinginan-keinginan dengan bantuan teknologi, khususnya teknologi komunikasi seperti televisi, radio, internet, telepon, faksimili, SMS dan media lainnya. Selanjutnya pada zaman ini bukan hal yang sulit untuk memindahkan atau bertukar budaya. Waktu dan jarak bukan lagi halangan. Berkomunikasi dengan manusia di belahan bumi lain bisa dilakukan secara langsung. Apa yang menjadi trend belahan bumi utara bisa saja sekejap langsung diikuti orang-orang di belahan bumi selatan. Bumi seolah menjadi kecil. Hari ini dia berada di negara A dan besoknya sudah berada di negara lain.
Menurut seorang Futurolog terkemuka asal Amerika Serikat, John Naisbit, era global serba teknologis seperti sekarang ini sering disebutnya dengan ” global lifestyle” telah merambah kemana-mana termasuk sampai ke kota Bukittinggi. Tidak bisa ditepis peradaban di belahan bumi manapun akan terimbas oleh percepatan perubahan budaya global yang membawa pada apa yang disebut The Boundlessof The World (Dunia tanpa batas). Akselerasi tampaknya merambah begitu cepat di hampir semua aspek kehidupan, tak terkecuali di negara-negara Muslim sekalipun. Budaya global yang mengalami perkembangan amat dakhsyat adalah: food, fashion dan fun ( makanan, pakaian dan hiburan).
Maka posisi berdakwah yang dilakukan oleh para “Da’i” punya peranan yang sangat strategis dan penting. Apalagi kalau berbicara tentang kota Bukittinggi. Kota kecil namun punya nuansa ke khasan keagamaan sekaligus kota yang banyak dikunjungi tamu baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Di sisi inilah para pendakwah lokal Bukittinggi berfungsi membentengi umat dari kehancuran dan pertautan budaya lokal dengan budaya yang masuk ke kota Bukittinggi.
Sudah tentu para ustaz, muballigh, buya dan panggilan keagamaan lainnya akan mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam berdakwah bila ditopang oleh seluruh stakeholders yang ada di kota Bukittinggi. Tetapi mengapa dalam persoalan Askes untuk da’i saja menjadi buah pembicaraan pada waktu lalu. Padahal persoalan askes hanyalah persoalan kecil yang tidak penting untuk diributkan dan sangatlah memalukan apalagi memasuki kawasan keagamaan yaitu askes untuk para da’i.
Penulis yakin bahwa keinginan atau niat baik pemerintah adalah untuk membantu para da’i merupakan suatu ketulusan dalam mengangkat nilai-nilai agama dengan memuliakan para d’i kota Bukittinggi. Pada sisi lain penulis lebih yakin bahwa para da’i bukanlah orang yang mau meletakkan tangannya di bawah hanya demi askes. Apalah arti askes dibandingkan dengan perjuangan dakwah yang telah mereka berikan dengan peningkatan pengetahuan untuk umat.
Persoalan askes sudah berlalu, namun ke depan bagaimana antara pemerintah dan da’i untuk sejalan. Seayun selangkah dalam membentengi umat dari persoalan yang semakin menggurita. Semoga. ***
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Adlan Sanur
Kesadaran dan panggilan untuk berdakwah sudah terjadi dan dimulai sejak zaman dahulu. Dakwah yang pertama itu dimulai dari sejak zaman Rasulullah SAW sampai dengan masa pertengahan. Sebab Muhammad sebagai utusan Allah juga berfungsi sebagai seorang penda’i. Mengajak manusia dari alam kegelapan kepada alam yang terang benerang. Memang untuk melihat kepemimpinan umat Islam yang memajukan peradaban umat manusia, maka dakwah Islam tidak bisa dilupakan sejarah.
Secara historis sosiologis, baru pada abad sekarang ini umat Islam sadar bahwa Islam benar-benar tertantang memasuki panggung dakwah berskala global, yang antara lain disebabkan oleh revolusi teknologi transportasi dan komunikasi. Ketika sistem informasi dibantu satelit, seluruh bumi menjadi kecil. Dalam waktu yang bersamaan kita dapat memperoleh informasi dan gambar tentang peristiwa yang terjadi di belahan bumi. Dunia memang semakin modern dan maju. Peralatan yang dipakai manusia semakin canggih. Inilah yang oleh orang banyak menyebut era teknologi.
Manusia semakin mudah menggapai keinginan-keinginan dengan bantuan teknologi, khususnya teknologi komunikasi seperti televisi, radio, internet, telepon, faksimili, SMS dan media lainnya. Selanjutnya pada zaman ini bukan hal yang sulit untuk memindahkan atau bertukar budaya. Waktu dan jarak bukan lagi halangan. Berkomunikasi dengan manusia di belahan bumi lain bisa dilakukan secara langsung. Apa yang menjadi trend belahan bumi utara bisa saja sekejap langsung diikuti orang-orang di belahan bumi selatan. Bumi seolah menjadi kecil. Hari ini dia berada di negara A dan besoknya sudah berada di negara lain.
Menurut seorang Futurolog terkemuka asal Amerika Serikat, John Naisbit, era global serba teknologis seperti sekarang ini sering disebutnya dengan ” global lifestyle” telah merambah kemana-mana termasuk sampai ke kota Bukittinggi. Tidak bisa ditepis peradaban di belahan bumi manapun akan terimbas oleh percepatan perubahan budaya global yang membawa pada apa yang disebut The Boundlessof The World (Dunia tanpa batas). Akselerasi tampaknya merambah begitu cepat di hampir semua aspek kehidupan, tak terkecuali di negara-negara Muslim sekalipun. Budaya global yang mengalami perkembangan amat dakhsyat adalah: food, fashion dan fun ( makanan, pakaian dan hiburan).
Maka posisi berdakwah yang dilakukan oleh para “Da’i” punya peranan yang sangat strategis dan penting. Apalagi kalau berbicara tentang kota Bukittinggi. Kota kecil namun punya nuansa ke khasan keagamaan sekaligus kota yang banyak dikunjungi tamu baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Di sisi inilah para pendakwah lokal Bukittinggi berfungsi membentengi umat dari kehancuran dan pertautan budaya lokal dengan budaya yang masuk ke kota Bukittinggi.
Sudah tentu para ustaz, muballigh, buya dan panggilan keagamaan lainnya akan mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam berdakwah bila ditopang oleh seluruh stakeholders yang ada di kota Bukittinggi. Tetapi mengapa dalam persoalan Askes untuk da’i saja menjadi buah pembicaraan pada waktu lalu. Padahal persoalan askes hanyalah persoalan kecil yang tidak penting untuk diributkan dan sangatlah memalukan apalagi memasuki kawasan keagamaan yaitu askes untuk para da’i.
Penulis yakin bahwa keinginan atau niat baik pemerintah adalah untuk membantu para da’i merupakan suatu ketulusan dalam mengangkat nilai-nilai agama dengan memuliakan para d’i kota Bukittinggi. Pada sisi lain penulis lebih yakin bahwa para da’i bukanlah orang yang mau meletakkan tangannya di bawah hanya demi askes. Apalah arti askes dibandingkan dengan perjuangan dakwah yang telah mereka berikan dengan peningkatan pengetahuan untuk umat.
Persoalan askes sudah berlalu, namun ke depan bagaimana antara pemerintah dan da’i untuk sejalan. Seayun selangkah dalam membentengi umat dari persoalan yang semakin menggurita. Semoga. ***
Tulisan ini Sudah Pernah di Muat di Harian Haluan Sumatera Barat
Langganan:
Postingan (Atom)